ppnijaktim.org, Jakarta – Pemahaman tentang bidang kesehatan dinilai semakin penting untuk diperkuat dalam dunia pendidikan. Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar kurikulum kesehatan diintegrasikan sebagai mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
Menurut Menkes, edukasi kesehatan sejak dini merupakan fondasi krusial dalam membentuk generasi masa depan yang lebih sehat, sadar, dan produktif.

Dalam upaya merealisasikan gagasan tersebut, Budi Gunadi Sadikin mengaku telah secara aktif melakukan komunikasi dan pendekatan dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
“Kesehatan itu harus jadi kurikulum di sekolah. Kami sudah bujuk Pak Mendikdasmen agar ini bisa masuk,” ungkap Menkes Budi dalam sebuah diskusi kesehatan bersama awak media, Rabu (13/8/2025), sebagaimana dilansir disway.id.
Ia menegaskan bahwa penanaman pemahaman dasar mengenai kesehatan sejak bangku sekolah merupakan investasi jangka panjang bagi negara. Banyak persoalan kesehatan di Indonesia, menurutnya, berakar dari rendahnya literasi dan kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
Menkes mencontohkan berbagai masalah kesehatan nasional seperti stunting, penyakit tidak menular (diabetes dan hipertensi), hingga kesehatan mental, yang sebenarnya dapat dicegah apabila edukasi kesehatan diberikan secara sistematis sejak usia dini.
“Bayangkan jika anak-anak kita sejak SD sudah paham gizi seimbang, pentingnya cuci tangan pakai sabun, bahaya merokok, atau cara mengelola stres. Saat dewasa, mereka akan mengambil keputusan yang lebih sehat untuk diri sendiri dan keluarganya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Menkes menjelaskan bahwa kurikulum kesehatan yang diusulkan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis dan aplikatif. Adapun materi yang diusulkan antara lain:
-
Gizi Seimbang, mencakup pengenalan nutrisi makro dan mikro untuk mencegah stunting dan obesitas
-
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), meliputi kebersihan diri dan lingkungan
-
Kesehatan Reproduksi, disesuaikan dengan jenjang usia peserta didik
-
Kesehatan Mental, termasuk cara mengenali dan mengelola stres serta pentingnya mencari bantuan
-
Pencegahan Penyakit, meliputi pemahaman vaksinasi serta penyakit menular dan tidak menular
Kementerian Kesehatan menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi penuh dengan Kemendikbudristek dalam penyusunan kurikulum tersebut. Kemenkes akan berperan sebagai penyedia konten substansi kesehatan, sementara Kemendikbudristek akan mengolahnya menjadi materi ajar yang sesuai dengan kapasitas dan psikologi siswa di setiap jenjang pendidikan.
“Kami siapkan kontennya, dan teman-teman di Kemendikbudristek yang meramu cara mengajarnya. Ini kerja gotong royong untuk masa depan bangsa,” pungkas Menkes.
Usulan ini kini menunggu tanggapan serta langkah konkret dari Kemendikbudristek agar dapat diwujudkan sebagai kebijakan pendidikan nasional.





